Pelajaran Dari Penilaian Akhir Lomba Website Desa

Banyak pelajaran yang dapat diambil dari tahapan Penilaian Akhir Lomba Website Desa yang di adakan oleh PUSPINDES Pemalang.  Dengan berbekal pelatihan  seperti ITCAMP 2016  silam, serta pemantapan website oleh PUSPINDES, admin desa memperesentasikan bagaimana mengelola website desanya di hadapan juri yang terdiri dari unsur pemerintah dan masyarakat TIK Pemalang. Pada saat pelatihan ITCAMP 2016, terkait dengan website desa para peserta diajari tentang bagaiamana menulis dan memposting berita.

Pada penilaian akhir, admin website desa setidaknya telah mendapatkan pelajaran bagaimana mengelola website yang baik.  Kriteria pertama dalam penilaian adalah jumlah postingan, karena sebuah website dengan konten yang statis pastinya membosankan. Kriteria kedua yaitu jumlah halaman, karena website desa berfungsi untuk menginformasikan seluas-luasnya tentang desa.

Kriteria selanjutnya adalah desain, responsive dan kesesuaian isi dari website. Desain yang menarik, enak dibaca, tampilan gambar yang ringan, baik tampilan di laptop maupun handphone akan membuat pengunjung tidak cepat lari. Kriteria terakhir adalah fitur tambahan, admin desa dituntut untuk selalu inovatif dalam mengelola website seperti pembuatan surat menyurat secara online dan sistem informasi desa.

Tanam Padi Sistem TABELA (Tabur Benih Langsung)

Pada umumnya para petani dalam menanam padi masih menggunakan sistem pindah tanam,Yang memerlukan waktu yang agak lama dan memerlukan biaya yang cukup besar.

Semua petani saat ini sangat mengeluhkan karena begitu tingginya biaya  yang harus dikeluarkan, untuk benih saja petani harus membeli dari toko dengan harga yang mahal, belum lagi biaya pengolahan lahan (Traktor) yang tahun ini mengalami kenaikan harga, dari Rp.400.000,- per seperempat bau (1/4) menjadi Rp.500.000,- kenaikan biaya Pembelian bibit, pengolahan lahan (Traktor) diikuti pula biaya borongan tanam dari RP.150.000,- menjadi Rp. 200.000,-.

Tanam sistem Tabela (Tabur Benih Langsung) sebenarnya sistim tanam yang sudah lama diperkenalkan kepada petani, namun petani masih enggan menggunakan sistim Tabela, karena menganggap tanam sistim ini sangat repot.

Keuntungan tanam system Tabela dari benih lahan seperempat bau (1/4) hanya memerlukan benih  3 sampai 3,5 Kg. dibandingkan dengan tanam system pindah tanam seperempat bau (1/4) para petani  memerlukan benih 10 Kg. dari segi tanam, dalam seperempat bau (1/4) Petani mengeluarkan biaya borongan tanam Rp. 400.000,-, dibandingkan dengan tanam system Tabela Seperempat bau (1/4) petani hanya mengeluarkan biaya harian tiga orang dengan bayaran Rp.30.000,-(Rp.90.000) jadi jumlah untuk biaya tanam berbeda sangat jauh.

Di Desa Kuta Kecamatan Bantarbolang Kabupaten Pemalang, khususnya semua kelompok tani yang ada di Desa Kuta,  sudah di kenalkan system tanan Tabel atau SRI baik dari Dinas Pertanian Kabupaten Pemalang maupun dari pihak lain.

Salah satu petani yang masih menggunakan tanam sistem Tabela adalah Tuminah , anggota kelompok Tani Ngudi Berkah  Dusun Penusuhan Desa Kuta. Yang pada hari minggu (8/2017) kemarin tanam menggunakan system Tabela, Lebih lanjut Tuminah mengatakan, tanam system Tabela lebih ngirit biaya.

 

Air dan pohon Kelapa

Pohon kelapa biasa tumbuh di daerah tropis baik di dataran tinggi maupun daerah pesisir pantai, Pohon kelapa dengan batang tunggal tumbuh menjulang tinggi dan umumnya tegak lurus tanpa terpengaruh denga pohon lainnya tetap tumbuh. Pohon kelapa sangat manfaat/kegunaan mulai dari akar sampai daunnya dari yang muda sampai yang tua baik batang, pohon, buah dan daunnya. Yang kami singkapi disini adalah  tentang keberadaan air didalamnya. Tuhan Allah SWT telah menciptakan segalanya yang ada di bumi ini satu diantaranya pohon kelapa. Dan juga sepengetahuan saya tidak ada persamaan lain dengan pohon yang satu ini, untuk itu pohon kelapa saya manfaatkan sebagai simbul/ filosofi kaitannya dengan hal yang mungkin sangat berkaitan dengan alam sekitar terutama air. Wilayah desa Kuta dari saya sejak kecil teringat sumber air yang sangat melimpah, karena memang desa kuta dikelilingi hutan jati dan rawa rawa, disitu ada lembah dan sungai besar maupun kecil yang ada di daerah wilayah desa Kuta maupun selokan/kalen (bahasa kuta) disitu air melimpah sepanjang tahun. Air mengalir ada yang bersumber dari daerah perbukitan termasuk datang dari daerah yang paling tinggi yaitu dari Gunung Wangi. Gunung wangi ini adalah suatu daerah perbukitan batu kapur dan terdapat 7 macam goa goa yang waktu itu tumbuh berbagai jenis tumbuhan yang lebat . Dengan perkembangan jaman kini kata air melimpah sudah tidak ada lagi hanya terlihat dimusim penghujan saja. Dengan sumber air inilah kita perlu renungkan untuk wilayah kuta dimusim kemarau. Hutan diperbukitan gunung wangi dimusim kemarau yang keadaan saat ini nyaris gundul, hanya semak belukar tetapi sumber air tetap mengalir walaupun debednya sangat kecil.  Dengan kata lain perlu adanya menghutankan kembali dibukit Gunung Wangi yang gersang . Dengan filosofi air dan pohon kelapa ini menggambarkan air datang dari mana saja bukit paling tinggi sekalipun. Pohon kelapa berbuah dan air didalamnya tetap terisi penuh walaupun berbuah dimusim kemarau, dan tumbuh dibukit yang tinggi sekalipun. Dengan kekuatan sang Penciptalah air mengalir dari tempat yang lebih tinggi tanpa berpikir air itu sendiri bersumber dari mana. Terlebih apabila hutan diwilayah desa kuta dan sekitarnya kembali normal,  seperti layaknya hutan pada umumnya, maka  sumber air akan muncul dimana mana yang dapat bermanfaat bagi masyarakat secara keseluruhan. Maka untuk lebih mengawali tentang air ini memerlukan keseriusan dari semua pihak untuk menjaga kelestarian alam kita demi kelangsungan akan sumber air. Prinsip mendasar yang harus dilakukan adalah mulai dari diri kita sendiri. “KU TANAM POHON INI BUKAN UNTUK SIAPA SIAPA”

#di tulis oleh Samsuri# 

1 2 3